Saat Kebosanan Melanda

Berhubung hari ini ga ada ide mau nulis surat buat siapa, boleh kan yah narsis sendiri? Ya itung-itung surat untuk mengingatkan bahwa betapa narsisnya diriku. Muahahaha..😀

Jadi, ada beberapa situasi dimana diri ini kesambet Angin Kebosanan. Nah, beberapa hal di bawah ini menjelaskan aib apa sajakah yang dilakukan saat fenomena itu terjadi (hati-hati, jangan dijadikan inspirasi melakukan hal serupa):
-Ke Gram*d buat nonton film yg disetel di atas konter DVD. Jadi ya minimal 1 jam lah berdiri kayak orang cengo di situ.
-Menormalkan posisi pulpen di konter alat tulis. Pokoknya semua mata pena harus ngadep atas. Ga mau tau😐
-Natain baju di wadah obral. Bantuin mas-mba penjaganya, kasian mereka ._.
-Keliling RS, buat ngepoin nama-nama pasien yg tercantum di tiap kamar. Siapa tau ada yang kenal. Sekalian njenguk deh😉
-Ngutak atik laptop sampe ada yg ilang & ga tau ngembaliinnya. No further explanation _.v
-Ngarahin badan seirama dengan nengoknya kipas angin di tembok toko/warung. Ga usah dibayangin :p
-Thinking about you, not only when we bored, but everytime. #eaaaaa
-Ngitungin tangga ke kamar (kayaknya ada 15)
-Ngobrol dijalanan sampe batuk ga sembuh-sembuh
-Dengerin musik di hape yang langsung diselipin ke helm,krn lagunya random. Karena ndengerin lagu di hape pake earphone sudah terlalu mainstream.

Sekian, dan terimakasih.
Aib lebih lanjut soal saya, PM aja ya sist!😀

Lari!

Badanmu menegang.
Kaki-kaki kecil menapak lincah di bumi.
Nafas terengah-engah mengejar sesuatu.
Matamu membara terfokus ke depan.
Bahkan teriakan orang-orang kau abaikan.
Badanmu seakan terbang bersama angin, tak mampu dikejar apapun.
Berguncang seirama hentakan kaki.

Kau berhenti seketika.
Benda itu telah tergapai.
Geraman kau lancarkan tanda gemas.
Kau kembali berlari.

Kuping berdiri tegak.
Ekor melambai mesra.
Bulu terhempas ke belakang dengan anggun.
“Ayo Qirby! Buruan ke sini, kembalikan frisbee’nya!”
“Guk, guk!” Serumu sambil menggigit erat frisbee merah.
“Good boy!”

Selamat bobo, Qirby. Besok main lagi yuk😉

image

Hitam Putih

Tag

, , ,

“Kenapa suka abu-abu? Warna ga jelas gitu. Ada di antara hitam dan putih, terpaksa membaur agar diakui sebagai warna.”
“Karena aku suka. Kamu kenapa suka ungu? Warna janda gitu. Hasil kombinasi merah dan biru, memaksa hadir dalam jajaran warna pelangi”

Debat itu tak berujung, lalu berpindah ke topik kenapa bintang di langit susunannya berantakan.
Ditemani riak danau dan awan gelap menggelantung rendah, kami memanfaatkan waktu untuk berbincang.

Dari utara ke selatan, dari barat ke timur. Seakan tak pernah bisa habis. Kadang dihiasi tawa, kadang keluhan, kadang airmata. Orang-orang yang melihat mungkin terheran, namun kami acuh. Saat inj saja, ijinkan kami egois dan menikmati waktu yang ada, sebelum semua kembali terbelenggu.

Tentang suatu permasalahan yang sedang kami pergumulkan. Prakteknya, suatu keadaan sulit mengelompokkan diri menjadi hitam-putih. Pada akhirnya ia menjadi abu-abu, dan tetap disalahkan.

Kepada seseorang dan suatu keadaan, terimakasih telah membuat raga ini sadar bahwa apapun hasil perjuangan yang dilakukan nanti, harus tetap berbangga.
Abh-abu adalah warna kehidupan.

Keliatan ga?

Jpeg

who am I ?

Iya. Eh, keliatan ga itu gambar apa?  Silahkan menerka-nerka. Kalau sudah tau jawabannya, hubungi saya. Telepati juga bisa. Tapi saya bukan cenayang yang tau isi pikiran dan hatimu. Jadi kalau memang naksir, bilang langsung dan kontinyu yah.. Kami haus kasih sayang. *malah ngejual diri*

Seingat kami, benda -yang namanya tak boleh disebutkan- pernah kami bahas. Sayang, rasa malas mengahalangi kami menelusur ke belakang kembali. Karena kaca depan kami lebih besar dari kaca spion *apa sih*. Tentang emosi yang terungkap saat benda itu tertangkap; bahkan jika hanya ujung mata. Namun merasa kehilangan setelah kemarau mengusir mereka. Lalu berulang.

Ya, kami kembali merindu hal-hal yang kami benci. Bukan karena kami kesepian. Cih, kerja 15 jam sehari, bertemu banyak orang, berbicara promo yg sama, melihat tanggapan yg sama, beradu ide, membawa pekerjaan baru di atas kasur, lalu bersaing kecepatan membelah aspal kau bilang kesepian? Terkadang.

Pertama kali melihat -kau tau siapa- adalah usai hujan kedua di kota hotel ini. Setelah tubuh menghangat karena sehari sebelum diguyur air. Hujan tentunya. Seakan dia menantiku di depan gerbang. Menunggu dilindas ban motor yang sudah 1 bulan tak disentuh sabun. Takut? Teriak? Lempar bom?  Bukan, tapi tersenyum. Ya, entah reflek macam apa. Tapi kami tersenyum melihatnya kembali. Rindu itu terobati🙂 Meski bertambah 1 lagi ancaman bagi tiap langkah dan putaran roda kami. Kami memang takut -itu-, tapi kami sedih melihat bangkainya bertebaran, remuk redam dan hancur berantakan di jalanan. Ya begitulah,  ababil memang. 

 

Apapun itu, kami menyambut musim hujan kali ini dengan riang gembira (dan nafas tersengal tentunya). Semoga apapun yg alam semesta rencanakan dan sediakan dapat bermanfaat bagi penghuninya. Amin…

 

Nb: Lapor, sampai saat ini belum ada -anu- yang saya jumpai di sekitar kamar kos. Mungkin karena jaraknya yg jauh dari ketinggian permukaan laut.

Oya, keliatan ga sih fotonya? -__-“

Menanti Badai

Jpeg

Di antara

Bukan dalam rangka tamasya, pekerjaan dan jadwal-jadwal latihan cukup menyita waktu.

Tak berniat mengejar senja, hanya kali ini kami berpura-pura tersesat.

Lain dari melarikan diri, fisik kami tak mampu. Namun pikiran ini yang mengendalikan.

Tak ada panduan, hanya sesekali melirik peta virtual, sudah sejauh apa dari pusat kota. Kami akhirnya sampai ke -yang katanya villa tertinggi dan terangker di kawasan wisata itu- sebuah rumah tua. Naik beberapa meter, ada Gua Jepang. Hmm.. menarik. Mari berkunjung ke sana lagi, saat luang tentunya. Tapi, kapan ya? Pfffth…

Sejalan pulang, kutemukan mentari mengintip di balik gumpalan awan, jejak badai sedari tadi pagi. Saat awan mendung menggelayut, membuat seisi kantor berbisik “Kelon-able banget nih cuacanya”. Tapi toh pada akhirnya mereka tetap berkuda besi berkeliling wilayahnya. Termasuk kami.

Seorang kawan berkata “Tak ada yang lebih indah daripada melihat matahari terbit seusai badai. Meski itu matahari yang sama yang kita lihat tiap hari” Ya, indah memang. Sembari menikmatinya, kita bisa melihat dengan jelas kekacauan yang ditimbulkan sang badai. Mungkin bisa sekalian beberes.

Tapi kami tak bisa main-main dengan alam semesta. Tempo hari, penatnya otak membuat kami berkata; “Kami, menanti badai hanya untuk menanggapinya dengan melangkah mundur”.

Well, tetap berjuang dan berhenti itu sama beratnya.

Perjuangan goblok bukan berarti perjuangan sia-sia. Kecuali kau makin tenggelam dalam kegoblokanmu sendiri.

Apapun keputusannya, lakukan dengan bangga.

Terimakasih kawan,kau bukakan mata dan pikiran kami. Meski sampai saat ini masih terlalu dini untuk menyebut sebagai keputusan final. Imaji dan fokus masih bercabang. Pipi dan mata masih bengkak.

Selamat malam.

Jogja, 26 November 2015

Happy late and early birthday, by the way.

 

-“karena cerita Ramayana butuh pemeran antagonis”

Seharusnya

Mungkin, andai, jika… Kata-kata yang kami benci. berharap panah cupid menghampiri dan menghancurkan kata-kata fatamorgana itu.

dewi ketujuh

Seharusnya sekarang adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Kami duduk di cafe yang ditata dengan romantis. Saya menyesap soft drink sambil menulis tulisan ini. Dia di kursi seberang, mengabiskan es krimnya pelan-pelan. Dia tersenyum, saya membalasnya.

Seharusnya ini adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Lagu-lagu 90-an di tempat ini sama-sama membuat kami sesekali ikut menyanyikannya.

Meski begitu, hati-hati kami tidak ikut larut dalam keromantisannya.

Seharusnya sekarang adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Mungkin seharusnya sekarang kami memulai percakapan dengan membahas buku-buku yang sedang kami baca, seperti Jesse dan Celine.

Tapi cerita kami berbeda. Panah cupid tidak menancap  di dadaku. Mungkin di dadanya juga tidak.

Cinta cuma simbol cerita. Sekadar dongeng para pencerita, supaya manusia mengenal bahagia.

Lihat pos aslinya

Sampingan

Randomisasi Akhir Bulan

tes, tes.. judulnya keliatan ga? Biasanya cuma kebaca ‘uncategorized’ kalo posting dari hape -__-# malah sekarang kebacanya ‘sampingan’ (What the…)

240815 11:45
Selamat memasuki akhir bulan…
-Dimana orang-orang mulai meratapi dompetnya yang menipis
-Saat teman-teman mulai menyiapkan twit #SeptemberWish #SeptemberCeria #GoodbyeAugst atau #GajianKapanYah (yg terakhir itu saya banget)
-Ketika hasil pembacaan timbangan mulai condong ke kiri (dikit aja tapi)
-Dan akhirnya karyawan-karyawan merelakan perutnya berbunyi keroncongan merdu lebih sering dari tanggal-tanggal.sebelumnya

#hufth

*liat dompet*
*ada duit warna ijo, 20rebu*
*ini serius*
yang mau mendonorkan sedikit rejekinya ke saya, silahkan PM ya sist-bro T__T Baca lebih lanjut

Miniatur Alam Semesta

Tag

, , ,

Mini ForestBarusan ketemu teman karate yang dulu satu dojo di Banyumas & sesama penggiat gereja sewilayah klasis. Ternyata dia juga teman organisasi adik sepupuku. Ternyata dulu adikku juga naksir dengannya. Ternyata mantan pacarnya pernah satu kos dengan adikku itu. Ternyata kakak perempuannya pernah menjadi tunangan bla bla bla… Ternyata, ternyata, ternyata…

“Dunia itu sempit yah…”
“Banget, Mba. Apalagi kalo link kita banyak, ibarat kata: maju kenal, mundur kenal. Kanan nyapa, kiri nyolek.” Baca lebih lanjut

Menatap Lilin

Tag

, , , ,

lilin

Sering dengar ungkapan “Lilin mengorbankan dirinya habis meleleh dan terbakar api agar orang yang menyalakannya memperoleh penerangan” ?

Bukan, bukan itu yang sedang aku lakukan. Tidak perlulah kita mengklaim semua perbuatan kita adalah pengorbanan untuk sesuatu yang lain. Jika memang ikhlas melakukannya, untuk apa kita ‘pamer’ kesengsaraan? Apakah harus mengikuti tren masa kini, saat ‘kode’ bertebaran di media sosial. Berharap yang dituju mengerti tanpa memberikan kamus untuk memecahkan sandi itu? Murah.

Generasi sekarang miskin akan kejujuran dan memilih untuk bersembunyi dibalik huruf-huruf yang bertebaran di status dan foto profil yang diunggah hampir setiap menit. Menyesakkan beranda dan penglihatan.
Generasi sekarang adalah generasi yang mengutamakan prasangka tanpa menelisik lebih jauh dan menanyakan secara langsung pada yang bersangkutan. Mengapa? Karena mereka dipaksa menterjemahkan kode-kode -yang ia pikir untuk dirinya- tanpa panduan. Tanpa mencoba mengerti dan menanyakan langsung pada si empunya jemari yang mengetik huruf-huruf tadi. Baca lebih lanjut

Si Aries Tukang (Sok) Sibuk

Kami bertemu…
Berawal dari keisengan si kembar buat ikutan Yahoo Koprol. Lalu sering kopdar sana-sini, ngobrolin ini-itu, foto gini-gitu.
Dia berada dalam nangan zodiak aries, sedangkan aku cancer (dan virgo). Secara teori kami tak cocok karena ego yang sama besar. Ya, terkadang…

Kami berpisah…Sementara…
Entah berapa kali kami bersitegang. Mungkin hanya karena masalah sepele yang aku tak ingat. Kala itu, bisa ratusan kali muka tertekuk dan mata dipicingkan ke arah mukanya yang mungil. Mungkin lebih kecil ketimbang telapak tanganku. Jika sudah demikian, tak segan aku menggebrak meja atau langsung memacu laju motor di luar batas. Well, aku sedang ditahap ababil. Sekarang juga masih si. Hehehe…

Kami akur…
Entah sejak kapan.
Beberapa kali memang ku ingat kita saling tegur sapa. Tapi, lagi-lagi memoriku tak menyimpan bagian itu.
Hanya saja deretan wayang di balik kelir malam itu menjadi saksi keakraban kami kembali. #eeeaaa  :V

Kami ada…
Ego itu masih ada pada kami. Namun dalam bentuk yang berbeda.
Ia menyelinap dalam tiap kalimat yang saling kami lontarkan dalam percakapan via pesan singkat. Ya, kedua ego dalam kami hanya berani mengintip saat off air. Ketika on air, kami kunci mereka dalam sebuah kotak tak berengsel.
Begitu kuatnya hingga kami sendiri terheran.

Begitulah…
Selamat ulang tahun, Meong😀
Semoga berat badannya bisa naik yah. Haha, becanda kok.
Semoga dilancarkan proyek-proyek kali ini. Didamaikan hatinya dengan berbagai konflik dan dilema. Diberi hikmat dalam membuat keputusan, dan diberi berkah melimpah dari Tuhan. Amin🙂

Yakinlah, bahwa semesta itu unik dan racikan Tuhan itu asik🙂

read the rain
2 Maret 2015.
Warung Jawa, Purwokerto.
Saat cuaca ababil Purwokerto memaksaku berkata:
“Kita sok romantis banget yah kejebak ujan di sini sambil makan…”
Lallu kau tenggelam dalam buku di genggamanmu.